Minggu, 10 September 2017

Hukum Menjilat Vagina Istri Menurut Pandangan Islam Beserta Dalilnya


Bagaimana Islam memandang soal hukum menjilat vagina (kemaluan) istri? Pada postingan kali ini akan dijelaskan secara lengkap serta detail tentang hukum menjilat/menghisap organ intim wanita yang harus pria ketahui.

Kami tahu, jika Anda seorang taat beragama, menaati semua perintah agama yang ada, tentu Anda tidak ingin gegbah dalam melakukan sesuatu. Perlu ditimbang baik dan buruknya, boleh atau tidaknya. Terutama soal hubungan seks suami isteri.

Sebagai pasangan suami-isteri yang sudah menikah kurang lebih dua tahun bahkan lebih. Dalam soal hubungan seks tidak ada masalah. Anda juga biasa melakukan pemanasan (foreplay) terlebih dahulu. Namun, tentu bagi Anda ada hal yang menganjal dalam benak yang mungkin Anda membutuhkan jawaban sekarang juga, bagaimana sebenarnya hukum menjilati klitoris (vagina) istri?

Hukum Menjilat Kemaluan Istri Menurut Islam
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, hal pertama yang harus dipahami dalam hal ini adalah bahwa seorang suami boleh melakukan aktivitas seks dengan istrinya kapan saja dan dengan gaya apa saja, kecuali yang dilarang oleh syara’, seperti menyetubuhi isteri melalui ANUS.

Dalam Al-Qur'an dijelaskan;

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِين

Artinya, “Isteri-isterimu adalah ladangmu, maka datangilah ladangmu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman,” (QS. Al-Baqarah [2]: 223)

Permasalahan agama yang berkaitan dengan aktivitas hubungan badan pasutri tidak perlu ditutup-tutupi. Untuk kepentingan hukum, Rasulullah SAW tidak segan-segan menerangkannya seperti hadits berikut ini;

إنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِ مِنْ الْحَقِّ لَا تَأْتُوا النِّسَاءَ فِي أَدْبَارِهِنَّ (رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ)

Artinya, “Sungguh Allah tidak malu dalam hal kebenaran. Jangan kalian mendatangi isteri-isteri melalui anus mereka,” (HR Imam Syafi’i).

Atas dasar dalil yang disebutkan diatas kemudian dikatakan bahwa suami boleh menikmati semua kenikmatan dengan isteri kecuali LINGKARAN di sekitar ANUS atau melakukan hubungan intim melalui dubur (Anal Seks).
يَجُوزُ لِلزَّوْجِ كُلُّ تَمَتُّعٍ مِنْهَابِمَا سِوَىَ حَلْقَةِ دُبُرِهَا وَلَوْ بِمَصِّ بَظْرِهَا

Artinya, “Diperbolehkan bagi seorang suami untuk bersenang-senang dengan isteri dengan semua model kesenangan (melakukan semua jenis aktivitas seksual) kecuali lingkaran di sekitar anusnya, walaupun dengan menghisap klitorisnya,” (Lihat Zainudin Al-Malibari, Fathul Mu’in, Jakarta-Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet ke-1, 1431 H/2010 M, halaman 217).

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Asbagh, salah seorang ulama dari kalangan madzhab Maliki yang menyatakan bahwa suami boleh menjilati kemaluan isterinya. Hal ini sebagaimana dikemukakan al-Qurthubi dalam tafsirnya.

وَقَدْ قَالَ أَصْبَغُ مِنْ عُلَمَائِنَا: يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَلْحَسَهُ بِلِسَانِهِ

Artinya, “Ashbagh salah satu ulama dari kalangan kami (Madzhab Maliki) telah berpendapat, boleh bagi seorang suami untuk menjilati kemaluan isteri dengan lidahnya,” (Lihat al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, Kairo-Darul Hadits, 1431 H/2010 M, juz XII, halaman 512).

Namun menurut Qadli Abu Ya’la salah seorang ulama garda terdepan di kalangan madzhab Hanbali berpandangan bahwa aktivitas tersebut sebaiknya dilakukan sebelum melakukan hubungan badan (jima’). Demikian sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Kasyful Mukhdirat war Riyadlul Muzhhirat li Syarhi Akhsaril Mukhtasharat yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’ali.

وَقَالَ ( القَاضِي ) : يَجُوزُ تَقْبِيلُ الْفَرْجِ قَبْلَ الْجِمَاعِ وَيُكْرَهُ بَعْدَهُ

Artinya, “Al-Qadli Abu Ya’la al-Kabir berkata, boleh mencium vagina isteri sebelum melakukan hubungan badan dan dimakruhkan setelahnya,” (Lihat Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’li al-Hanbali, Kasyful Mukhdirat, Bairut-Dar al-Basya`ir al-Islamiyyah, 1423 H/2002 M, juz II, halaman 623).

Demikian hukum menjilat kemaluan vagina istri menurut pandangan agama islam yang dapat kami sampaikan kepada kaum suami dan tidak menutup kemungkingan bagi kaum istri sekalian. Semoga bisa dipahami dengan baik.

Silahkan klik bagikan / share dan Semoga ALLAH SWT akan membalas sekecil apapun amal baik kalian Semua...Amin!!!

Hukum Memasukan Jari Ke Vaglna Istri Menurut Islam


Memasukkan Jari ke Vagina Istri

Bismillah. Suami-istri diperbolehkan untuk menikmati anggota badan masing-masing, agar bisa membangkitkan syahwat, selama menjauhi dubur dan kemaluan ketika haid atau nifas. Oleh karena itu, tidak ada larangan bagi seorang suami untuk memasukkan jarinya ke kemaluan istri. Terlebih jika ini dalam rangka memuaskan pasangan

HANYA SAJA, PERLU DIPAHAMI BAHWA PARA ULAMA MENGINGATKAN, PERBUATAN SEMACAM INI TIDAK SEJALAN DENGAN AKHLAK YANG MULIA DAN TABIAT YANG BAIK.

Allah telah memberikan syariat terbaik dalam masalah ini, dengan dihalalkannya jima’ (hubungan intim). Sebagai hamba-Nya yang baik, selayaknya kita mencukupkan diri dengan hal-hal yang Allah halalkan.

Catatan: Jika yang disentuh adalah bagian luar kemaluan istri dan tidak sampai memasukkan jari, seperti memegang klitoris, atau kegiatan semacamnya, maka para ulama menegaskan bahwa hal itu diperbolehkan.

Allahu a’lam.

Disarikan dari Fatawa Syabakah Islamiyah


Silahkan klik bagikan / share dan Semoga ALLAH SWT akan membalas sekecil apapun amal baik kalian Semua...Amin!!!

Pengertian Ikhlas Menurut Pandangan Agama Islam

Assalamualaikum, sobat Bloggers Islam,
 Syarat diterimanya ibadah adalah rasa ikhlas sebagaimana diterangkan dalam ayat Al Qur'an (QS. Az Zumar: 65)," Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu." Dengan ikhlas kita tidak akan tersesat ke jalan yang tidak diridhoi Allah, dengan ikhlas pula kita tidak akan menjadi orang yang riya’ atau sombong, karena sombong itu merupakan sifatnya setan. Syaitan berkata,” Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menetapkanku sesat, sungguh akan kuusahakan agar anak manusia memandang indah segala yang tampak di bumi dan aku akan sesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hambaMu dari antara mereka yang ikhlas (Al-Hijr: 39-40).

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.Tetapi banyak dari kita yang beribadah tidak berlandaskan rasa ikhlas kepada Allah SWT, melainkan dengan sikap riya’ atau sombong supaya mendapat pujian dari orang lain. Hal inilah yang dapat menyebabkan ibadah kita tidak diterima oleh Allah SWT.

Arti Dari Ikhlas

Secara bahasa, Ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih dari kotoran. Sedangkan secara istilah, Ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain.


Oleh karena itu, bagi seorang muslim sejati makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian Si Muslim tersebut menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dan yang berkarakter seperti itulah yang mempunyai semboyan “Allahu Ghayaatunaa”, yang artinya Allah adalah tujuan kami, dalam segala aktivitas dalam mengisi kehidupan.

Kedudukan Ikhlas

Rasulullah SAW. Pernah bersabda, “ Ikhlaslah dalam beragama, cukup bagimu amal yang sedikit.” Dalam hadist lain Rasulullah SAW. bersabda,“ Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya,“ Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini,“ Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata,“ Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Dari beberapa contoh hadist di atas menunjukkan bahwa ikhlas itu memang sangat penting bagi umat muslim dalam melaksanakan ibadah, karena tanpa rasa ikhlas dan hanya mengharap ridho dari Allah SWT ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah.

Ciri-Ciri Orang Ikhlas

1. Terjaga dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT, baik sedang bersama dengan manusia atau sendiri. Disebutkan dalam hadits,“ Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)
2. Senantiasa beramal di jalan Allah SWT baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang orang lain, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,“ Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
3. Selalu menerima apa adanya yang diberikan oleh Allah SWT dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
4. Mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Pengelompokan Ikhlas

1. Iklhas Mubtadi’ : Yakni orang yang beramal karena Allah, tetapi di dalam hatinya terbesit keinginan pada dunia. Ibadahnya dilakukan hanya untuk menghilangkan kesulitan dan kebingunan. Ia melaksanakan shalat tahajud dan bersedekah karena ingin usahanya berhasil. Ciri orang yang mubtadi’ bisa terlihat dari cara dia beribadah. Orang yang hanya beribadah ketika sedang butuh biasanya ia tidak akan istiqamah. Ia beribadah ketika ada kebutuhan. Jika kebutuhannya sudah terpenuhi, ibadahnyapun akan berhenti.
2. Ikhlas Abid : Yakni orang yang beramal karena Allah dan hatinya bersih dari riya’ serta keinginan dunia. Ibadahnya dilakukan hanya karena Allah dan demi meraih kebahagiaan akhirat, menggapai surga, takut neraka, dengan dibarengi keyakinan bahwa amal ini bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan api neraka. Ibadah seorang abid ini cenderung berkesinambungan, tetapi ia tidak mengetahui mana yang harus dilakukan dengan segera (mudhayyaq) dan mana yang bisa diakhirkan (muwassa’), serta mana yang penting dan lebih penting. Ia menganggap semua ibadah itu adalah sama.
3. Ikhlas Muhibb : Yakni orang yang beribadah hanya karena Allah, bukan ingin surga atau takut neraka. Semuanya dilakukan karena bakti dan memenuhi perintah dan mengagungkan-Nya.
4. Ikhlas Arif, yaitu orang yang dalam ibadahnya memiliki perasaan bahwa ia digerakkan Allah. Ia merasa bahwa yang beribadah itu bukanlah dirinya. Ia hanya menyaksikan ia sedang digerakkan Allah karena memiliki keyakinan bahwa tidak memiliki daya dan upaya melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Semuanya berjalan atas kehendak Allah.

Manfaat dan Keutamaan Ikhlas

1. Membuat hidup menjadi tenang dan tenteram
2. Amal ibadahnya akan diterima oleh Allah SWT.
3. Dibukanya pintu ampunan dan dihapuskannya dosa serta dijauhkan dari api neraka.
4. Diangkatnya derajat dan martabat oleh Allah SWT.
5. Doa kita akan diijabah.
6. Dekat dengan pertolongan Allah.
7. Mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.
8. Akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di hari kiamat.
9. Allah SWT akan memberi hidayah (petunjuk) sehingga tidak tersesat ke jalan yang salah.
10. Allah akan membangunkan sebuah rumah untuk orang-orang yang ikhlas dalam membangun masjid
11. Mudah dalam memaafkan kesalahan orang lain
12. Dapat memiliki sifat zuhud (menerima dengan apa adanya yang diberikan oleh Allah SWT)

Cara Mencapai Ikhlas

Cara agar kita dapat mancapai rasa ikhlas adalah dengan mengosongkan pikiran dissat kita sedang beribadah kepada Allah SWT. Kita hanya memikirkan Allah, shalat untuk Allah, zikir untuk Allah, semua amal yang kita lakukan hanya untuk Allah. Lupakan semua urusan duniawi, kita hanya tertuju pada Allah. Jangan munculkan ras riya’ atau sombong di dalam diri kita karena kita tidak berdaya di hadapan Allah SWT. Rasakanlah Allah berada di hadapan kita dan sedang menyaksikan kita. Insya Allah dengan cara di atas anda dapat mencapai ikhlas. Dan jangan lupa untuk berdoa memohon kepada Allah SWT agar kita dapat beribadah secara ikhlas untuk-Nya, sebagaimana do’ a Nabi Ibrahim a.s,” Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku
termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. al An'aam: 77). Wassalamu’ alaikum wr. wb.



Silahkan klik bagikan / share dan Semoga ALLAH SWT akan membalas sekecil apapun amal baik kalian Semua...Amin!!!

Sabtu, 09 September 2017

Doa Dan Cara Berhubungan Seks Suami Istri yang Baik Menurut Agama Islam



Bloggers Islam,berhubungan Intim Suami Istri Menurut Islam ada tiga yaitu doa sebelum melakukan, doa ketika keluar air mani, dan doa setelah selesai. Dalam Berhubungan Intim juga harus memperhatikan Cara dan larangannya.

Berhubungan Intim harus diketahui oleh para pasangan suami istri yang akan melakukan hubungan intim. Sebagai manusia normal, tentu saja kita semua mempunyai hasrat untuk melakukan hubungan, terutama bagi yang sudah menikah. Dalam Islam, melakukan hubungan suami istri adalah wajib hukumnya karena ini merupakan salah satu kewajiban sebagai sepasang suami istri. Islam sudah mengatur secara detail bagaimana cara berhubungan suami istri yang baik dan benar. Nah, sebagai makhluk yang sempurna, hendaknya ketika berhubungan suami istri atau bersetubuh juga harus dilakukan dengan cara yang mulia ini.

Islam sudah mengajarkan bagaimana Cara Berhubungan Intim Menurut Islam yang baik dan doa bagi pasangan suami istri. Ada tiga doa yang diajarkan oleh Islam ketika bersetubuh yaitu doa sebelum Berhubungan Intim, doa ketika mengeluarkan air mani, dan Doa setelah selesai melakukan hubungan badan suami istri.

Untuk lebih jelasnya berikut 3 Lafadz Doa Bersetubuh Suami Istri Menurut Islam:

1. Doa Bersetubuh sebelum melakukan hubungan badan

Sebelum melakukan hubungan badan antara suami dan istri sebaiknya melafalkan doa terlebih dahulu. Adapun doanya yaitu:

بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna”.
Doa ini bermakna bahwa Anda memohon agar dijauhkan dari setan yang bisa merusak hubungan suami istri Anda dan menjauhkan setan dari rezeki yang Allah berikan kepada Anda. Doa ini dilafalkan sebelum Anda memulai untuk melakukan hubungan suami istri.

2. Doa Bersetubuh ketika mengeluarkan air mani

Ketika mengeluarkan ari mani juga harus berdoa agar air mani yang dikeluarkan bisa memberikan keturunan yang baik. Adapun doa ketika mengeluarkan air mani yaitu:

اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً
“Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah”.
Arti dari doa ini yaitu Ya Allah, semoga sperma yang kami keluarkan bisa menghasilkan keturunan yang baik.

3. Doa Bersetubuh setelah selesai melakukan hubungan badan

Setelah selesai melakukan hubungan badan hendaknya pasangan suami istri harus berdoa dengan mengucapkan hamdalah. Doa setelah melakukan hubungan badan ini ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan kenikmatan yang begitu indah ketika melakukan hubungan badan suami istri.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا
“ALHAMDU LILLAAHI LLADZII KHALAQA MINAL MAA I BASYARAA”
Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan)

Selain melafalkan doa bersetubuh, Islam juga mengajarkan bagaimana Cara atau etika ketika melakukan hubungan badan. Adapun Cara dan Doa Bersetubuh Suami Istri Menurut Islam yaitu:

Melakukan dalam keadaan yang masih suci
Adab atau etika dalam bersetubuh yang pertama yaitu melakukan hubungan suami istri dalam keadaan yang suci. Keadaan suci yang dimaksud di sini adalah keadaan tubuh yang suci bebas dari hadas besar maupun hadas kecil. Pasangan suami istri yang akan melakukan hubungan badan hendaknya dalam keadaan yang bersih sehingga tidak membawa kuman atau bakteri ketika melakukan hubungan badan. Disarankan untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan suami istri. Wudu bisa menghilangkan hadas kecil yang menempel pada tubuh, dan sangat disarankan jika melakukan buang air kecil terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan badan.

Shalat sunah dua rakaat terlebih dahulu
Islam juga menyunahkan para pasangan suami istri yang baru menikah untuk melakukan shalat sunah dua rakaat terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan suami istri. Shalat sunah ini dilakukan agar jiwa pasangan suami istri menjadi bersih dari berbagai macam penyakit hati. Melakukan shalat sunah dua rakaat ini hendaknya dilakukan secara b

Silahkan klik bagikan / share dan Semoga ALLAH SWT akan membalas sekecil apapun amal baik kalian Semua...Amin!!!

Doa Melunasi Hutang Baca Sebelum Tidur

Assalamualaikum sahabat Blogger islam

Doa ini adalah di antara doa yang bisa diamalkan untuk melunasi utang dan dibaca sebelum tidur.

Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, ia berkata, “Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami bila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan,

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Yang artinya :

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.” (HR. Muslim no. 2713)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa maksud utang dalam hadits tersebut adalah kewajiban pada Allah Ta’ala dan kewajiban terhadap hamba seluruhnya, intinya mencakup segala macam kewajiban.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 33).

Juga dalam hadits di atas diajarkan adab sebelum tidur yaitu berbaring pada sisi kanan.

Itulah tadi Doa Melunasi Hutang Baca Sebelum Tidur, Semoga bisa diamalkan dan Allah memudahkan segala urusan kita dan mengangkat kesulitan yang ada.



Silahkan klik bagikan / share dan Semoga ALLAH SWT akan membalas sekecil apapun amal baik kalian Semua...Amin!!!

Kamis, 30 April 2015

Sumbangan Untuk Masjid Al-Azhar Laos - Light Upon Laos

Assalamualaikum kepada semua pembaca, diminta jasa baik untuk memberikan sumbangan buat melengkapkan infrastruktur Masjid Al-Azhar di Laos.

Sumbangan anda akan digunakan untuk antaranya melengkapkan bahagian mengambil wudhuk di mana wanita dan lelaki terpaksa menggunakan tempat wudhuk yang sama sebelum ini. Peralatan ibadat akan turut dimanfaatkan melalui sumbangan anda.

Untuk maklumat lanjut, sila hubungi:

Hanis Zulaikha : 017-2254377


Sumbangan anda boleh dihulurkan kepada Nurul Adha:
705 435 6285 (CIMB)

Anda turut boleh merujuk kepada proposal "Light Upon Laos" di SINI untuk maklumat lebih mendalam mengenai projek Light Upon Laos


Kamis, 16 April 2015

Ketahui Impak Teknologi Dan Cara Mengawalnya


Assalamualaikum dan sejahtera kepada semua pembaca dan pengunjung setia blog kecil ini. Dengan kemajuan teknologi yang tiada had dan kepantasan internet, pelbagai perkara boleh terjadi. Kesempatan ini ingin saya sampaikan mengenai impak teknologi kepada dunia Islam, kelebihan serta keburukan, dan cara mengawalnya.

Komputer, telefon bimbit dan sebagainya, semakin berkembang maju, dan kita hampir lupa bagaimana rupa mereka saat mereka mula-mula diwujudkan. Dahulunya hanya mereka yang tertentu sahaja dapat memiliki teknologi ini, namun sekarang teknologi ini menjadi mampu milik.

Ya, mampu milik, bermakna ada kelebih; dan keburukan.

Tidak dinafikan, teknologi ini telah banyak membantu masyarakat muslim di pelosok dunia. Terdapat aplikasi al-Quran, internet dapat membantu pengguna melihat video ceramah dan artikel-artikel menarik.

Namun, pengguna hanya memanfaatkan teknologi ini dalam kadar 30 peratus. Selebihnya kerap digunakan ke arah kelalaian, sedar mahupun tidak.

Impak Teknologi

Alat-alat yang menggunakan tenaga eletrik ini, memberi bantuan besar kepada perkembangan Islam. Masyarakat dapat mengambil manfaat darinya. Ilmu agama disampaikan tanpa had. Teringat seketika saat zaman Nabi s.a.w., dimana penyebaran Islam terlalu terhad kerana kuasa-kuasa besar kafir. Namun Allah telah memudahkan kita pada zaman ini, masih ada juga yang tidak menggunakan kesempatan ini untuk membantu diri mereka sendiri.
Sebagai batu loncatan, alhamdulillah banyak kebaikan orang ramai telah memanfaatkan darinya. Semakin ramai yang mengetahui mengenai Islam dan sebagainya.




Media Massa

Ketepatan. Itu sahaja yang dapat kita nilai. Kebanyakkan maklumat yang disampaikan melalui media massa meragukan, dan kadang kala ketara perbezaannya dengan maklumat dari media lain. Namun masyarakat kita gemar dan kerap menyebarkan perkara yang tidak diketahui asal usul. Kerajaan dan agama telah menekankan mengenai maklumat yang tidak diketahui asal usul agar tidak disebarkan tanpa kaji selidik terlebih dahulu.

Masyarakat perlu peka dan mestilah lebih bijak mengenai hal ini. Jangan menyebarkan perkara yang tidak diketahui asal usul, kecuali telah disahkan pihak-pihak yang benar. Kerana kebanyakkan berita banyak menggugat keimanan dan keteguhan hati kita, berhati-hati.

Hiburan

Mengenai isu ini, dapat kita perhatikan, hiburan semakin tidak berhad dengan perkembangan teknologi.
Tidak salah berhibur, namun jika menyebabkan kelalaian, maka adalah tidak baik. Kita semakin jauh dengan Allah disebabkan sesuatu alat kecil.
"Amatlah malu di akhirat kelak bila Allah bertanya kepada kita, 'Mengapa kamu lalai terhadap-Ku?', dan kita menunjukkan alat kecil ini kepada Allah."

Sahabat-sahabat suatu ketika dahulu sedih sekiranya mereka terlalai walaupun sedikit, dengan dugaan yang mencabar, mereka tetap teguh kepada Allah.

Berdoalah agar kita tidak malu di akhirat kelak semata-mata kerana sebuah alat yang lebih kecil daripada tapak tangan, yang tidak mampu dikawal.


Internet

Diwujudkan pada suatu ketika dahulu untuk penyebaran data dan maklumat-maklumat penting, kini dijadikan penyebaran perkara yang baik; dan juga buruk.

Anak-anak muda ketika ini amatlah tinggi risiko terdedah kepada bahagian negatif internet, disebabkan sifat mereka yang ingin mencuba sesuatu yang luar biasa, mengetepikan isu baik dan buru.

Ibu bapa memang memainkan peranan penting. Ibu bapalah yang mencorak anak-anak mereka, seperti mana pelukis mencorakkan kertas putih menjadi lukisan berwarna indah.

Namun tersilap langkah, amat memberikan kesan buruk dalam tempoh masa yang panjang.

Anak muda perlu didedahkan dengan dunia sebenar, disebalik alam maya yang mereka kerap tuju.

Jika dikatakan lalai dengan dunia adalah memalukan di akhirat, lalai dengan dunia maya tidak terhingga malunya. Semoga kita mampu mengawal jadual harian kita daripada mengisi sepenuhnya kepada kelalaian. Allah boleh menarik nyawa kita pada bila-bila masa, saya juga tidak terkecuali, walaupun ketika sedang menulis ini.



Sosial

Kelebihan teknologi zaman sekarang melebihi teknologi dahulu adalah sistem bersosial melalui dunia maya. Ramai kenalan lebih mudah didapati daripada dahulu, di mana terpaksa meredah lautan dan panas suatu ketika dahulu.
Meskipun di dalam dunia maya, adab dan agama perlulah dijaga. Ramai yang memandang remeh, dengan beranggapan dunia maya dan dunia sebenar adalah sesuatu yang terpisah, jadi mereka mengasingkan personaliti mereka.

Di mana tapak kaki kita berpijak, itu menandakan kita berada di atas dunia yang sama. Janganlah kita lalai dengan bersosial, hingga lupa tanggungjawab kepada Allah s.w.t.



Wallahu alam, sekiranya saudara saudari mempunyai idea yang dapat ditambah dalam pengisian ini, silakan beri respons di dalam ruangan komen di bawah. Semoga Allah rahmati kita semua hendaknya, ameen ya robbal 'alamin.

Rabu, 15 April 2015

Perbezaan Anak Dara Dan Janda Dalam Perkahwinan Menurut Perspektif Islam




OLEH: PROF. DATIN NOOR AZIAH BINTI HAJI MOHD AWAL &
NUR ZAKIRAH BINTI MOHD SUTAN


ABSTRAK

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud “Wanita itu dikahwini kerana empat perkara: kerana harta-bendanya, status sosialnya, keindahan wajahnya dan kerana ketaatannya kepada agama. Pilihlah wanita yang taat kepada agama, maka kamu akan berbahagia.” Hadith ini menyarankan kepada kaum Adam yang ingin mendirikan rumah tangga supaya memilih wanita yang mempunyai harta, keturunan yang baik, rupa paras yang cantik dan taat kepada agama. Dalam hal ini wanita yang taat kepada agama lebih diutamakan kerana kebahagiaan sesebuah rumah tangga itu terletak kepada ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam pandangan Islam, perkahwinan adalah sunnah. Sunnah yang dimaksudkan di sini ialah perkahwinan merupakan amalan Rasulullah s.a.w. Maka barangsiapa yang mengikut serta mengamalkan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad s.a.w. dalam bentuk qaul (ucapan), fi‘il (perbuatan), taqrir (pengakuan), akhlak, sopan santun ataupun usaha perjuangannya, sama ada sebelum ataupun setelah dilantik menjadi Rasul maka ia akan mendapat pahala. Namun, terdapat beberapa pandangan atau perbezaan terhadap perkahwinan dengan anak dara dan janda. Pemilihan untuk berkahwin dengan anak dara ataupun janda adalah hak individu. Walau bagaimanapun, kedua-duanya adalah wanita yang mempunyai status dan kedudukan yang berbeza. Artikel ini akan cuba merungkai perbezaan antara perkahwinan dengan anak dara dan perkahwinan dengan janda dengan lebih mendalam. Secara keseluruhannya, perbezaan ini dilihat sebagai suatu perbezaan yang amat ketara terutamanya dari sudut perwalian, persetujuan perkahwinan, poligami dari segi keadilan dalam giliran bermalam dan sebagainya. Dengan adanya artikel ini, para pembaca akan dapat membezakan antara perkahwinan dengan anak dara dan perkahwinan dengan janda. Mudah-mudahan artikel ini akan memberikan manfaat dan pengetahuan kepada semua pembaca.

Kata Kunci: Perkahwinan dalam Islam*, Anak dara , Janda,

DIFFERENCE VIRGIN AND WIDOW IN MARRIAGE BY ISLAMIC PERSPECTIVE

BY : PROF. DATIN NOOR AZIAH BINTI HAJI MOHD AWAL
NUR ZAKIRAH BINTI MOHD SUTAN

ABSTRACK
Prophet s.a.w. which means " woman married for four reasons: because material possessions , social status , beauty of face and obedience to religion . Choose from women who are faithful to the religion , then you will be happy. " This hadith suggests to Adam that people want to get married to women who choose to have property , good pedigree , looks beautiful and obedient to the faith . In this case the woman piety preferred as a household 's happiness lies in obedience to Allah and His Messenger. In Islam , marriage is sunnah . Sunnah is meant here is that marriage is a practice of the Prophet He who by and observe everything that came from the Prophet Muhammad form speech/word, act , confession, morals , manners or joint struggle, either before or after was a messenger then it will be rewarded . However , there are some differences of opinion or wedding with virgins and widows. The choice to marry a virgin or a widow is an individual right. However, both are women who have a different status and position . This article will attempt to discover the difference between a wedding with virgins and widows marriage with depth. Overall, these differences are seen as a highly significant difference , especially in terms of trust , agreement of marriage, polygamy in terms of fairness in the night shift and so on . With this article , the reader will be able to distinguish between virgin marriage and marriage with the widow . Hopefully this article will give you the benefit and knowledge to all readers .



PENDAHULUAN

Perkahwinan merupakan suatu proses ke arah kehidupan dan pergaulan yang halal di sisi Islam. Setiap manusia di dunia ini pasti menginginkan ketenangan jiwa dan kebahagian di dunia dan di akhirat. Keharmonian rumahtangga dan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah adalah nikmat terbesar kurniaan Allah SWT kepada hamba-Nya. Sesebuah rumah tangga memerlukan suasana yang menyenangkan dan kehidupan yang penuh dengan kemesraan. Suasana tersebut boleh dicipta dengan adanya perasaan kasih sayang dan belas kasihan di antara suami isteri. Tanpa nilai-nilai tersebut suasana rumah tangga yang menyenangkan hati akan musnah dan menggugat kestabilan rumah tangga.

Ajaran Islam telah meletakkan beberapa rukun dan syarat tertentu sebelum melangkah ke alam perkahwinan. Menurut mazhab Shafi‘i, rukun nikah ada lima perkara; iaitu lafaz akad nikah (sighah), suami, isteri, wali dan dua orang saksi. Syarat lafaz akad nikah ialah dengan menggunakan lafaz kahwin atau nikah, atau perkataan terbitan daripada kedua-duanya dan lafaz akad nikah atau kahwin dalam ijab dan qabul hendaklah jelas. Antara syarat-syarat bakal suami ialah bukan muhrim kepada bakal isteri tersebut, ditentukan dan bukan dalam ihram haji atau umrah. Begitu juga perempuan yang ingin berkahwin itu bukanlah muhrim kepada lelaki yang hendak memperisterikannya, ditentukan dan tidak mempunyai sebarang larangan seperti masih bersuami, sedang dalam iddah atau pun dalam ihram haji. Manakala syarat bagi seorang wali ialah mestilah beragama Islam, adil, baligh, berakal, tiada penyakit yang mencacatkan fikiran, tiada halangan dalam menguruskan hartanya kerana boros dan bukan dalam ihram haji ataupun umrah. Sementara syarat bagi saksi pula ialah beragama Islam, lelaki, berakal dan baligh, adil, mempunyai pendengaran dan penglihatan yang baik.
Al- Sunnah telah menjelaskan bahawa terdapat kelebihan berpoligami dengan anak dara sebagai contoh dalam pembahagian giliran bermalam antara anak dara dan janda. Dalam hal ini, al-Sunnah telah mengkhususkan tujuh malam berturut-turut bagi anak dara dan hanya tiga malam bagi mereka yang berkahwin dengan janda. Al-Shafi‘i menjelaskan bahawa seseorang lelaki disunatkan berkahwin dengan anak dara kerana hati mereka akan jinak dengan orang pertama yang digaulinya. berbanding janda yang pernah bersuami.

TAKRIFAN
Anak Dara dalam bahasa Arab ialah bikr, jamak al-bikr; abkar yang bermaksud perawan (gadis). Seorang gadis dinamakan bikr kerana keadaannya adalah sepertimana pada awal penciptaannya. Bikr juga bermakna “permulaan setiap sesuatu atau setiap perbuatan yang belum pernah dibuat sebelumnya. Ia juga bermakna seekor lembu betina atau seorang wanita yang belum mengandung. Demikian pula kalimah bikr bererti seorang wanita yang melahirkan anak pertama sama ada anak lelaki mahupun anak perempuan, dan juga bererti anak pertama daripada seekor unta.

Perkataan ini ada disebut dalam al-Quran sepertimana firman Allah SWT:

Yang bermaksud: Mereka berkata pula: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkan-Nya kepada kami bagaimana (sifat-sifat) lembu itu?" Nabi Musa menjawab: "Bahawasanya Allah berfirman: Bahawa (lembu betina) itu ialah seekor lembu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, pertengahan (umurnya) di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kamu melakukannya.”

Imam al-Tabari mentafsirkan perkataan abkara dalam ayat tersebut adalah lembu yang berukuran sederhana dan tidak terlalu kecil yang belum melahirkan.

Selain itu, firman Allah SWT:
Yang bermaksud:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan isteri-isteri mereka dengan ciptaan istimewa, serta Kami jadikan mereka sentiasa dara (yang tidak pernah disentuh).”

Al-Dahhak mentakrifkan makna abkara dalam ayat tersebut adalah ‘perawan’. Ummu Salamah, salah seorang isteri nabi pernah bertanya makna kalimah abkara dalam surah al-Waqi‘ah itu kepada Rasulullah. Beliau berkata, “Mereka adalah para wanita yang dimatikan di dunia dalam keadaan lemah(tua), dan beruban rambutnya, lalu Allah menciptakan mereka semula menjadi perawan atau gadis selepas mereka dewasa dan tua”. Menurut kamus anak dara ialah permpuan yang masih gadis, belum berkahwin dan belum hilang daranya.
 
 
Makna anak dara yang dikehendaki ialah wanita-wanita yang masih perawan, gadis suci lagi bersih, sebagaimana kesucian Maryam binti ‘Imran yang belum disentuh oleh mana-mana lelaki, walaupun dia telah melahirkan Nabi ‘Isa.
Janda dalam bahasa Arab disebut thayyib adalah lafaz mufrad, jamaknya ialah thayyibat. Firman Allah SWT dalam kitab al-Quran al-Karim:

Yang bermaksud: “Boleh jadi, jika Nabi menceraikan kamu, Tuhannya akan menggantikan baginya isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, - yang menurut perintah, yang ikhlas imannya, yang taat, yang bertaubat, yang tetap beribadat, yang berpuasa, - (meliputi) yang janda dan yang anak dara.”

Berdasarkan ayat tersebut, Allah berjanji mengahwinkan nabi jika nabi menceraikan salah seorang isterinya. Yang dimaksudkan dengan al-thayyib adalah Asiah isteri Firaun dan al-bikr adalah Maryam binti ‘Imran.

Al-Razi mengatakan bahawa imra’ah al-thayyib adalah seorang perempuan yang sudah disetubuhi. Dalam Mu‘jam al-Tullab, thayyibat al-Mar’ah bermaksud perempuan yang kehilangan suami atau perempuan yang berpisah dengan suaminya disebabkan perceraian. Al- thayyib pula bererti perempuan yang kehilangan suaminya dengan sebab kematian ataupun perceraian, yang hilang daranya. Manakala thayyib dalam Kamus al-Miftah mengandungi tiga maksud iaitu perempuan yang tidak perawan (gadis), balu yang kematian suami dan janda yang ditalak.
Kesimpulannya, yang dimaksudkan dengan thayyyib ialah wanita-wanita yang tidak perawan yang telah berpisah dengan suaminya sama ada disebabkan oleh penceraian atau kematian suaminya. Perbezaan janda dan balu ialah janda ialah perempuan yang pernah berkahwin tetapi tidak bersuami lagi kerana bercerai atau kematian suami. Manakala balu ialah perempuan yang suaminya telah meninggal dunia. Dalam erti kata lain janda ialah perempuan yang bercerai dengan suami sama ada bercerai hidup ataupun bercerai mati, sementara balu ialah perempuan yang bercerai mati dengan suaminya.

KEDUDUKAN ANTARA ANAK DARA DAN JANDA DALAM PERKAHWINAN

Dalam al-Quran, Allah SWT menyebut secara keseluruhan berkenaan perkahwinan dengan anak dara mahupun janda dalam surah al-Tahrim ayat 5 yang bermaksud:
“Boleh jadi, jika Nabi menceraikan kamu, Tuhannya akan menggantikan baginya isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, - yang menurut perintah, yang ikhlas imannya, yang taat, yang bertaubat, yang tetap beribadat, yang berpuasa, - (meliputi) yang janda dan yang anak dara.”

Dengan itu, hadith-hadith nabi s.a.w. memperincikan apa yang telah diringkaskan dalam al-quran serta mengkhususkan apa yang telah diumumkan dalam firman Allah SWT. Perbezaan antara anak dara dan janda dalam perkahwinan boleh dibahagikan kepada aspek-aspek berikut:
a)Saranan Rasulullah s.a.w. Untuk Berkahwin Dengan Anak Dara
b)Status Wali dalam pernikahan
c)Persetujuan Anak Dara dan Janda dalam Perkahwinan
d)Perbezaan Giliran Bermalam antara Anak Dara dan Janda

Aspek-aspek tersebut akan dihuraikan dengan lebih mendalam berpandukan hadith-hadith Rasulullah s.a.w. Selain itu, pandangan-pandangan para ulama muktabar turut dinukilkan bagi memantapkan serta megukuhkan lagi hujah-hujah berkenaan dengan perbezaan anak dara dan janda dalam perkahwinan menurut perspektif Islam. Huraian-huraiannya adalah seperti berikut:

a.Saranan Rasulullah s.a.w. Untuk Berkahwin Dengan Anak Dara

Perkahwinan merupakan ikatan suci yang terbina antara suami dan isteri dengan akad pernikahan yang sah menurut rukun dan syarat yang telah ditetapkan dalam Islam. Pemilihan untuk berkahwin dengan anak dara mahupun janda adalah hak individu tersebut. Ini kerana peranan seorang isteri sangat penting dalam kehidupan rumahtangga yang telah diamanahkan oleh Allah SWT. Selain menjadi penyeri dan teman hidup suaminya, seorang isteri seharusnya pandai menguruskan segala keperluan harian termasuklah pandai mengendalikan kenderaan, menjaga makan minum keluarga, mengandung, melahirkan, mendidik anak-anak, menjaga maruah suaminya dan sebagainya sebagaimana Rasulullah s.a.w. bersabda:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُو نِسَاءٍ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِى صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِى ذَاتِ يَدِهِ.
“Wanita yang terbaik adalah wanita yang pandai mengenderai unta. Wanita Quraisy yang terbaik adalah sangat mengasihani (menyayangi) anak-anak kecil serta sangat pandai menjaga harta-benda suaminya”.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحِسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.
“Wanita dikahwini kerana empat hal: kerana harta-bendanya, status sosialnya, keindahan wajahnya dan kerana ketaatannya kepada agama. Pilihlah wanita yang taat kepada agama, maka kamu akan berbahagia.”
Agama Islam juga mengajarkan umatnya supaya memilih calon isteri yang sihat, cantik, penyayang, keturunan yang baik, taat kepada agama dan sebagainya.
Sabda Nabi s.a.w.:
عَلَيْكُمْ بِالأَبْكَارِ, فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا, وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا, وَأَرْضَى بِالْيَسِيْرِ.
“Hendaklah kamu memilih perempuan yang masih dara kerana mereka menuturkan kata-kata yang baik, mampu mempunyai anak yang ramai dan lebih reda kepada kehidupan yang sederhana.”
Hadith tersebut menunjukkan bahawa Rasulullah s.a.w. menyarankan kepada kaum muslimin agar berkahwin dengan perempuan yang masih dara. Perempuan yang masih dara akan menuturkan kata-kata yang baik, mampu mempunyai anak yang ramai dan lebih reda dengan kehidupan yang sederhana. Dengan demikian ianya akan menguatkan lagi ikatan perkahwinan yang terbina di antara mereka.
Al-Shafi‘i menjelaskan bahawa seseorang lelaki disunatkan berkahwin dengan anak dara kerana hati mereka akan jinak dengan orang pertama yang digaulinya. Demikian juga Nabi Muhammad s.a.w. menjelaskan kenapa perlu memilih anak dara.
b.Keperluan izin Wali dalam pernikahan
Orang yang boleh mengakadnikahkan perkahwinan dikenali sebagai wali. Wali mesti wujud dalam pernikahan seorang perempuan, sama ada perempuan tersebut masih kecil atau sudah baligh, janda atau anak dara untuk mengendalikan akad perkahwinannya.
Abi Musa berkata, bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍ
Yang bermaksud: “Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali.”
Jumhur ulama berpendapat bahawa, “Pernikahan tanpa wali, adalah batil (tidak sah). Orang yang berbuat seperti itu harus diberi hukuman (ta‘zir), sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah Umar bin al-Khatab. Ini adalah pendapat Imam Shafi‘i dan ulama lainnya. Bahkan ada sebahagian mereka yang melaksanakan had (hukuman yang berdasarkan nas) sebagai balasan perbuatan tersebut degan cara merejam dan sebagainya.
Imam Shafi‘i juga mengatakan bahawa apabila seorang perempuan tidak mempunyai wali, maka hak untuk mengahwinkannya berpindah kepada kadi (wali Sultan ataupun wali Raja) kerana dia dilantik untuk memberikan kebaikan kepada orang Islam. Mengahwinkan perempuan yang tidak mempunyai wali mempunyai kebaikan (maslahah) yang wajib direalisasikan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w.:
فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ .
“Maka sultan (penguasa) adalah wali bagi mereka yang tidak mempunyai wali.”
Selain itu, al-Shafi‘i berpendapat bahawa apabila perempuan di akadkan oleh wali yang memiliki pertalian keluarga yang lebih jauh, sedangkan wali yang mempunyai pertalian keluarga yang lebih dekat hadir, maka nikah tersebut batal. Jika wali yang terdekat tidak hadir, maka wali berikutnya tidak berhak melangsungkan akad nikah dan orang yang berhak melangsungkan akad nikah dalam kes ini adalah kadi.
Demikian juga halnya dengan seseorang perempuan yang sudah baligh dan berakal (anak dara) meminta untuk mengahwinkannya dengan seorang lelaki yang setaraf (sekufu) dengannya, maka wali wajib mengahwinkannya. Jika wali enggan, sekalipun wali itu ialah bapanya, dia hendaklah dikahwinkan oleh wali sultan. Ini kerana hak mengahwinkan beliau dengan lelaki yang sekufu adalah hak yang mesti ditunaikan oleh walinya. Jika wali enggan menunaikannya, pemerintah (wali sultan) akan menunaikannya. Hukum ini adalah berdalilkan kepada dalil yang telah disebutkan di atas.
Jika perempuan tersebut meminta dikahwinkan dengan seorang lelaki yang sekufu dengannya dan walinya ingin mengahwinkannya dengan lelaki lain yang juga sekufu, wali berhak melarang anaknya berkahwin dengan lelaki pilihannya dan mengahwinkannya dengan lelaki yang dipilih oleh beliau jika anak perempuannya masih lagi dara. Ini kerana pandangan wali lebih sempurna daripada pandangan anaknya.
Al-Quran juga melarang wali menahan dan menyekat perempuan yang telah diceraikan(janda) - setelah habis iddah - dari kembali semula kepada suaminya apabila kedua-duanya telah bersetuju untuk berbaik semula. Sebagaimana firman Allah SWT:
Yang bermaksud: “Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu habis masa iddah mereka maka janganlah kamu (wahai wali-wali nikah) menahan mereka daripada berkahwin semula dengan (bekas) suami mereka, apabila mereka (lelaki dan perempuan itu) bersetuju sesama sendiri dengan cara yang baik (yang dibenarkan oleh syarak).”
Ayat al-Quran dan hadith Rasulullah s.a.w. tersebut, jelas menunjukkan bahawa wali merupakan individu yang bertanggungjawab dan berkuasa penuh mengakadnikahkan seorang perempuan dengan bakal suaminya. Tanpa kehadiran wali di dalam majlis pernikahan tersebut, maka pernikahan itu akan terbatal dengan sendirinya dan menjadi tidak sah.
c.Persetujuan dan Penyaksian Anak Dara dan Janda dalam Perkahwinan
Sesebuah pernikahan tidak akan sah kecuali dengan adanya wali, maka adalah menjadi kewajipan pula untuk meminta persetujuan dari perempuan yang berada di bawah perwaliannya. Jika perempuan tersebut seorang gadis (anak dara), maka harus juga meminta izinnya, dan diamnya merupakan tanda ia setuju. Bapa dan datuk boleh memaksa anak perempuannya yang masih dara berkahwin, tetapi tindakan begini (tidak mendapatkan pandangannya) bukanlah suatu tindakan yang afdal (lebih baik). Adalah lebih baik dan sunat ialah wali meminta izin terlebih dahulu kepada perempuan tersebut sebelum mengahwinkannya, menghormati pandangannya serta menyenangkan hatinya. Hal ini disabdakan oleh baginda Rasulullah s.a.w. berkaitan dengan persetujuan seorang wanita yang hendak dikahwini adalah sebagaimana yang berikut:
Bagi wanita yang masih gadis, baginda Rasulullah s.a.w. bersabda:

لاَ تُنْكَحُ الاَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتىَّ تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ تَسْكُتَ.
“Tidak boleh mengahwinkan seorang wanita janda sehingga bermesyuarat terlebih dahulu dengannya, dan tidak boleh mengahwinkan seorang gadis sebelum meminta izin kepadanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana izin gadis itu?” Rasulullah s.a.w. menjawab: “kalau ia diam.”

Manakala, persetujuan seorang janda untuk dikahwini adalah terletak atas dirinya dan harus meminta persetujuannya (pendapatnya) berdasarkan sabda baginda Rasulullah s.a.w.:
قَالَ الاَيِّمُ أَحَقَّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا ...
“Seorang janda lebih berhak ke atas dirinya daripada walinya…”

Pada zaman baginda Rasulullah s.a.w., baginda pernah membatalkan perkahwinan seorang janda yang dinikahi oleh ayahnya tanpa persetujuan darinya. Perkara ini telah diceritakan oleh Khansa’ binti Khidam al-Ansari r.a. dalam sebuah hadith sebagaimana berikut:

أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِىَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَتَتْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهُ.
“Ia menceritakan bahawa bapanya mengahwinkannya (tanpa izinnya), sedangkan ia adalah seorang janda. Ia tidak suka dengan keadaan itu. Lalu ia datang menemui Rasulullah s.a.w., maka Rasulullah s.a.w. membatalkan perkahwinan itu.”

Menurut Ibn Taymiyyah, persetujuan tersebut menyatakan tentang dua hal iaitu ‘izin’ di satu pihak dan ‘pendapat’ di satu pihak yang lain. Demikian juga sikap ‘diam’ dan ‘berbicara’ dijadikan simbol kepada persetujuan. Kedua-dua perbezaan inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah s.a.w. berkaitan dengan persetujuan ‘seorang gadis’ dan ‘seorang janda’. Rasulullah s.a.w. tidak membezakan antara keduanya dalam hal ‘boleh paksa’ atau ‘tidak boleh’, sebab seorang gadis, biasanya malu untuk mengungkapkan isi hatinya, maka suatu lamaran tidak ditujukan kepada dirinya, tetapi ditujukan kepada walinya. Lalu walinya meminta persetujuan kepadanya dan gadis itu bersetuju.
Pada prinsipnya bukan menyuruh, tetapi meminta izin kepadanya, dan izinnya adalah sikap diamnya. Lain pula halnya dengan seorang janda, kerana sifat malunya dia dapat berbicara terus mengenai pernikahannya dan meminta walinya untuk menikahkannya. Dalam hal ini, kedudukan wali adalah sebagai ‘orang yang diperintah’ bagi wali kepada seorang janda, dan sebagai “orang yang bersetuju” bagi wali kepada seorang gadis.
Menurut Kamil Uwaidah, seorang bapa berhak dan boleh memaksa anak gadisnya berkahwin dengan sesiapa sahaja yang dikehendakinya tetapi dengan syarat, hendaklah suami mampu mengeluarkan perbelanjaannya sendiri apabila diminta oleh isteri, kerana itu adalah haknya menurut kaca mata syarak. Suami juga tidak mempunyai kecacatan dan hendaklah sekufu dengan perempuan itu bukan dari segi keturunan sahaja, bahkan juga dari segi keilmuan, pengetahuan dan sifat-sifat yang terpuji.
Demikian pula sebaliknya bagi seorang perempuan yang telah menjadi janda, dia lebih berhak ke atas dirinya berbanding dengan walinya. Dengan kata lain, walinya tidak boleh melangsungkan perkahwinan kecuali dengan persetujuan daripadanya, kerana dia lebih berhak menentukan masa depan dirinya sendiri.
Husein Abdul Hamid menceritakan satu riwayat yang berasal dari Juraij, disebutkan bahawa dia berkata; bahawa kami mendapatkan riwayat dari Ikrimah bin Khalid, bahawa dia berkata: “Di suatu jalan kami berkumpul dengan rombongan pedagang yang mengenderai unta, dalam rombongan tersebut terdapat seorang perempuan yang berstatus janda, kemudian janda tersebut menyerahkan urusannya kepada seorang lelaki di antara mereka, kemudian lelaki tersebut menikahkan janda tersebut dengan seorang lelaki yang ada di antara mereka (tanpa wali), mengetahui hal tersebut sahabat Umar bin Khatab menyebat orang yang menikah tersebut dan membatalkan nikahnya.
Sunat menyaksikan kerelaan pengantin perempuan untuk melaksanakan akad. Ini berlaku dengan cara dua orang saksi yang cukup syarat mendengar keizinan dan keredaan pengantin perempuan untuk melaksanakan akad seperti dia berkata: ‘Aku rela dengan akad ini’ atau ‘aku mengizinkan akad ini’. Ini dilakukan sebagai langkah berjaga-jaga untuk menjamin tidak berlakunya pengingkaran selepas akad.
d.Perbezaan Giliran Bermalam antara Anak Dara dan Janda
Apabila seorang lelaki mengahwini lebih daripada seorang perempuan, maka wajib baginya berlaku adil kepada semua isterinya. Keadilan yang dimaksudkan adalah adil dalam memberikan nafkah, tempat tinggal, pergaulan yang baik serta melaksanakan kewajipan sebagai seorang suami terhadap isteri-isterinya. Kesemua tanggungjawab tersebut mampu dilakukan oleh kebanyakan manusia yang berpoligami. Sekiranya keadilan dalam aspek-aspek tersebut tidak mampu dipenuhi bagi mereka yang hidup berpoligami, maka di hari akhirat nanti mereka tergolong dalam kalangan orang yang badannya miring(senget) kerana tidak mampu berlaku adil terhadap isteri-isterinya.
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadithnya:
مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتاَنِ فَمَالَ إِلىَ إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ.
“Barangsiapa yang memiliki dua orang isteri, kemudian ia tidak bersikap adil, maka ia akan datang pada hari khiamat dalam keadaan badannya miring (senget)”.
Demikian juga halnya dalam pembahagian giliran bermalam bagi para isteri. Semua isteri berhak mendapat giliran bermalam bersama suaminya walaupun salah seorang daripada mereka sakit, didatangi haid atau nifas selagi mereka taat kepada suami mereka. Suami wajib berlaku adil kepada isteri-isterinya dalam pembahagian giliran bermalam atau dalam hal-hal lain. Sebagaimana firman Allah SWT:
Yang bermaksud: “Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa.”
Sunnah bagi suami mengkhususkan tujuh malam berturut-turut kepada anak dara yang baru dikahwininya, manakala bagi janda yang baru dikahwininya, mereka wajib mengkhususkan tiga malam berturut-turut untuknya, sebagaimana hadith yang diriwayatkan oleh Anas r.a. sabda Rasulullah s.a.w.:
مِنَ السُّنَّةِ إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الْبِكْرَ عَلىَ الثَّيِّبِ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا وَقَسَمَ وَإِذَا تَزَوَّجَ الثَّيِّبَ عَلىَ الْبِكْرِ أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلاَثاً ثُمَّ قَسَمَ.
“Telah menjadi sunnah jika seseorang mempunyai isteri janda, lalu ia berkahwin dengan seorang gadis, maka ia tetap tinggal dengan isteri mudanya selama tujuh hari, setelah itu bergiliran. Kalau ia mempunyai isteri gadis, lalu ia berkahwin pula dengan seorang janda, maka ia tinggal selama tiga hari dengan isterinya yang baru, setelah itu bergiliran.”

Demikian juga, dalam hadith yang lain menceritakan bahawa isteri Rasulullah s.a.w., Saudah telah memberikan giliran bermalamnya bersama Rasulullah s.a.w. kepada Aisyah:
قَالَتْ سَوْدَةُ بِنْتُ زَمْعَةَ حِينَ أَسَنَّتْ وَفَرِقَتْ أَنْ يُفَارِقَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَوْمِي لِعَائِشَةَ
“Saudah binti Zam‘ah ketika telah berusia lanjut dan takut ditinggalkan Rasulullah s.a.w., ia berkata; wahai Rasulullah, hariku untuk Aisyah.”

Hadith tersebut menunjukkan perintah untuk mengutamakan isteri yang baru dinikahi bagi suami yang sudah mempunyai isteri. Al-Shan‘ani menukilkan pandangan Ibn Abdil Bar yang berkata, “Jumhur Ulama mengatakan bahawa itu adalah hak wanita kerana adanya pernikahan, sama ada suami tersebut sudah berkahwin ataupun belum. Pendapat inilah yang dipilih oleh al-Nawawi, walaupun hadith tersebut merujuk kepada suami yang sudah mempunyai isteri. Jumhur ulama membezakan waktu giliran antara isteri yang masih gadis dan janda. Hadith tersebut jelas menunjukkan bahawa pembahagian itu wajib hukumnya bagi isteri yang baru dinikahi.

PERBINCANGAN
Berdasarkan aspek-aspek yang telah dikemukan terdapat empat perbezaan perkahwian antara anak dara dan janda iaitu saranan rasulullah s.a.w. untuk berkahwin dengan anak dara, status wali dalam pernikahan, persetujuan dan penyaksian anak dara dan janda dalam perkahwinan dan perbezaan giliran bermalam antara anak dara dan janda. Pemilihan bakal isteri antara anak dara dan janda sering menjadi topik perbincangan dewasa ini. Kebanyakkan daripada mereka memilih anak dara sebagai teman hidup mereka. Ada juga dalam kalangan mereka berkahwin dengan janda. Namun begitu, terserahlah kepada individu tersebut yang mana menjadi pilihan dihatinya.

Islam menggalakkan umatnya berkahwin awal dan berkahwin dengan anak dara. Anak dara merupakan seorang yang masih gadis, suci dan belum pernah berkahwin dengan mana-mana lelaki. Oleh yang demikian, perkahwinan dengan anak dara akan memberi peluang yang lebih luas untuk melahirkan ramai anak. Ini kerana keadaan mereka yang masih kuat, sihat dan berupaya untuk mengandung serta melahirkan ramai anak tanpa sebarang risiko. Walau bagaimanapun, kesemuanya adalah kehendak dan anugerah dari Allah SWT. Pada hari akhirat kelak, Rasulullah s.a.w. sangat berbangga dengan umatnya yang mempunyai anak yang ramai sebagaimana sabda baginda s.a.w.:
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الأُمَمَ
"Nikahkanlah wanita-wanita yang penyayang dan subur (banyak keturunan), karena aku akan berbangga kepada umat yang lain dengan banyaknya kalian."
Berdasarkan hadith tersebut, dapat diketahui bahawa sunnah Rasulullah s.a.w. adalah “meramaikan anak” dan baginda berbangga dengan umatnya yang ramai di hari akhirat kelak berbanding dengan umat yang lain.
Pemilihan bakal isteri merupakan satu rukun daripada rukun-rukun kekeluargaan. Agama Islam menyuruh mereka yang ingin mendirikan rumah tangga untuk mencari wanita yang solehah sebagai calon isteri. Terdapat beberapa perkara menarik bagi mereka yang berkahwin dengan anak dara seperti sikapnya yang keanak-anakkan, manja, suka dibelai akan melahirkan suasana yang lebih mesra dan romantik. Ketaatan kepada agama adalah perkara yang paling utama dalam pemilihan bakal isteri kerana isteri yang taat kepada agama seperti tidak meninggal solat, berpuasa di bulan Ramadan, rajin beribadat, menutup aurat dan sebagainya akan mudah metaati dan menghormati suaminya berbanding perempuan yang tidak mentaati agama. Kebiasaannya sikap perempuan sebegini akan mudah untuk melawan, membantah serta menderhakai suaminya.

Antara sebab lain digalakan berkahwin dengan anak dara adalah mereka menuturkan kata-kata baik, lemah lembut dan memikat hati suami yang mendengarnya. Selain itu, sikap mereka yang redha dengan kehidupan yang sederhana, sentiasa bersyukur dan sedia menerima kekurangan dalam rumahtangga sama ada pemberian tersebut dari segi material mahupun seksual. Sikap mudah tersinggung, cepat terasa hati dan cemburu merupakan asam garam dalam berumahtangga adalah perkara biasa untuk melengkapkan lagi ikatan perkahwinan yang telah terbina antara suami isteri. Oleh yang demikian, Islam menggalakkan para suami yang ingin mendirikan rumah tangga berkahwin dengan anak dara.
Galakan Nabi s.a.w memilih anak dara untuk dijadikan teman hidupnya adalah demi kemesraan dan kebahgiaan rumahtangga. Namun jika seseorang lelaki mempunyai alasannya yang tersendiri, seperti pemilihan janda tersebut akan membawa kebaikan tertentu kepadanya, maka itu adalah haknya. Hal ini pernah berlaku kepada Jabir r.a. yang memilih seorang janda sebagai teman hidupnya. Baginda s.a.w. tidak membantah perbuatan tersebut malah mendoakan kebaikan untuk Jabir r.a. Peristiwa ini diceritakan dalam hadith yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.a. katanya:
تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلىَ عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَقِيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ: أَتَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ؟ قُلْتُ: نَعَمْ, قَالَ: أَبِكْرًا أَوْ ثَيِّباً؟ قُلْتُ: ثَيِّباً, قَالَ فَهَلاَّ بِكْرًا تُلاَعِبُهَا؟ قُلْتُ: كُنَّ لِي أَخَوَاتٌ, فَخَشِيْتُ أَنْ تَدْخُلَ بَيْنِي وَبَيْنَهُنَّ, قَالَ: فَذَاكَ إِذَنْ.
“Aku menikahi seorang perempuan pada zaman Rasulullah s.a.w., kemudian aku menemui Rasulullah s.a.w. dan beliau pun berkata, “ Adakah kamu sudah menikah wahai Jabir?” aku menjawab, “Ya.” Baginda berkata lagi, “Adakah ia seorang gadis ataupun janda?” Aku katakan, “Janda.” Maka baginda pun berkata, “Kenapa tidak dengan anak dara, kamu boleh bergurau senda dengannya?” Aku menjawab, “Aku mempunyai beberapa orang saudara perempuan, dan aku takut akan terjadi sesuatu antara aku dengan mereka.” Beliau bersabda, “Tidak mengapa jika demikian.”

Begitu juga seseorang lelaki wajar mengahwini janda untuk tujuan memberikan pertolongan kepadanya seperti janda yang kehilangan suami sedangkan dia tanpa tempat bergantung. Ini terutama bagi janda yang berasal daripada keluarga bukan Islam atau negara yang jauh. Jika perkahwinan itu mempunyai hasrat menyelamatkan agamanya, itu adalah kebaikan. Ini kerana Rasulullah s.a.w juga mengahwini wanita, yang hampir kesemuanya isteri-isteri baginda berstatus janda kerana baginda ingin menolong mereka.

Rasulullah s.a.w. berkahwin dengan sembilan orang wanita. Daripada kesembilan orang isteri tersebut, hanya seorang sahaja isteri baginda s.a.w. yang dinikahi ketika masih gadis iaitu Saidatina Aisyah bt Abu Bakar r.a. Di antara isteri baginda s.a.w. yang sudah memiliki anak sebelum berkahwinan dengan baginda adalah Ummu Salamah bt Abu Umayyah r.a. Ummu Salamah mempunyai dua orang anak lelaki dan dua orang anak perempuan semasa pernikahannya dengan Abu Salamah. Manakala Siti Khadijah pula sebelum perkahwinannya dengan Rasulullah s.a.w., beliau sudah pun mempunyai dua orang anak, seorang anak lelaki dengan suami pertamanya, Abi Halah bin Zurarah al-Tamimi dan seorang anak perempuan dengan suami yang kedua iaitu Atiq bin Aziz al-Makhzumi, kedua-dua anaknya diberi nama Hindun. Isteri-isteri baginda s.a.w. yang lainnya adalah janda yang tidak mempunyai anak iaitu Saudah bt Zam’ah r.a., Hafsah bt Umar al-Khatab r.a., Zainab bt Khuzaimah r.a., Zainab bt Jahsyi r.a., Juwairiyah bt al-Harith r.a., Ummu Habibah bt Abu Sufyan r.a., Safiyyah bt Huyay r.a., Maimunah bt al-Harith dan Mariah al-Qibtiyyah r.a. Kesemua isteri-isteri baginda s.a.w. digelar sebagai ‘Ummahat al-Mukmnin’.

Perkahwinan Rasulullah s.a.w. dengan para isterinya yang bergelar janda didasari oleh beberapa sebab. Sebab yang paling utama adalah untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini. Sebagai contoh, perkahwinan baginda s.a.w. dengan Saudah adalah untuk menyelamatkannya dari kekafiran. Ini kerana keadaan keluarga Saudah yang masih kafir dan ditakuti mereka akan mempengaruhinya untuk kembali ke dalam kekafiran jika tidak diselamatkan. Demikian juga perkahwinan Rasulullah s.a.w. dengan Juwairiyah, puteri al-Harith bin Dhirar yang memimpin Bani Mustalik adalah bertujuan untuk melunakkan hati suku Kaum Bani Mustalik kepada Islam. Rasulullah s.a.w. mengahwini Ummu Habibah adalah untuk menghiburkan hatinya dan menjadi pengganti yang lebih baik baginya kerana suaminya telah murtad sedangkan beliau tetap istiqamah terhadap agamaya. Sebab lain yang mendorong baginda s.a.w. untuk berkahwin adalah untuk menjaga keluarga dan anak-anak janda tersebut. Selain itu, Rasulullah s.a.w. berkahwin dengan Aisyah dan Hafsah adalah untuk menyambung silaturrahim serta mengeratkan lagi hubungan persahabatan antara Saidina Abu Bakar dan Saidina Umar.

Demikianlah keistimewaan-keistimewaan Rasulullah s.a.w. yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepadanya. Setiap seorang daripada isteri baginda s.a.w mempunyai sebab-sebab tersendiri yang menyebabkan beliau mengahwini mereka. Jelaslah bahawa perkahwinan Rasulullah s.a.w. bertunjangkan matlamat dan tujuan yang jelas iaitu untuk menegakkan ajaran Islam di bumi ini.



RUMUSAN DAN PENUTUP

Sememangnya, Islam tidak memandang rendah kepada kaum perempuan yang bergelar janda, malah agama Islam mengharuskan bagi kaum lelaki yang berkemampuan untuk membantu dan memberi pertolongan kepada mereka. Oleh yang demikian, poligami diharuskan untuk membantu golongan janda yang bercerai dengan suaminya sama ada bercerai hidup ataupun bercerai mati dengan syarat lelaki tersebut boleh berlaku adil kepada para isterinya. Terdapat juga sebahagian daripada sahabat Nabi s.a.w. yang berkahwin dengan janda, bahkan Rasulullah s.a.w. sendiri mengahwini isteri-isterinya yang hampir kesemuanya berstatus janda. Namun begitu dari segi keutamaan, terdapat pilihan bagi seorang lelaki untuk memilih anak dara mahupun janda yang kedua-duanya baik dari semua sudut untuk dijadikan teman hidupnya. Maka dalam keadaan ini memilih anak dara diutamakan. Hal ini kerana sifat dan sikap anak dara yang lemah lembut dan pemalu akan lebih memuaskan hati si suami yang baru pertama kali bersama dengannya. Selain itu, kasih sayang yang diberikan kepada suaminya adalah semata-mata untuk suaminya, tiada perbandingan dan perbezaan kasih sayang dengan suami yang sebelum berbanding janda yang pernah memiliki suami. Mereka berkemungkinan akan membuat perbandingan dari pelbagai sudut antara suami yang baru dengan suami yang lama. Keduanya mempunyai hikmahnya yang tersendiri. Walaubagaimanapun, wujudnya perbezaan tersebut adalah kerana terdapat galakan dalam Islam supaya mengahwini anak dara.












RUJUKAN
Al-Quran al-Karim.
Abu Daud Sulaiman Ibn al-Ash’ath al-Sijistani. 1999. Sunan Abu Daud. Al-Qahirah: Dar al-
Hadith.
al-Bukhari, Muhammad Ismail. t.th. al-Jami‘ al-Sahih. Al-Qahirah: al-Matba‘ah al-Salafiyah.
Husein Abdul Hamid. 2007. Mukhtasar Kitab al-Umm Fi al-Fiqh Imam al-Shafi’i. Jil. 2. Terj. M.Mujib, A. Huda & Yasin. Abu Ezzat al-Mubarak (pnyt.)Johor Baru: Perniagaan Jahabersa.
Ibn Kathir, Ismail Kathir al-Qurasyi. 1998. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Beirut: al-Maktabah al-‘Asriyyah.
Ibn Taimiyah. 2002. Majmu‘ Fatawa tentang Nikah. Terj.Abu Fahmi Huaidi & Syamsuri an-
Naba. Jakarta: Pustaka Azzam, Penerbit Buku Islam Rahmatan.
Kamil Uwaidah. 2007. Himpunan Fatwa-fatwa Semasa Daripada Zaman Salafus Soleh
Sehingga Ke Zaman Ulama Masa Kini. Terj.Basri Ibrahim. Kuala Lumpur: al-Hidayah Publication.
Kamus Dewan. 1994. Edisi Ketiga. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Kamus Dewan. 2005. Edisi Keempat. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Mohd Khairi Zainuddin, Mohd Nazri Zainuddin & Mohd Fuad Mohd Isa. 2007. Al-Miftah.
Selangor: al-Azhar Media Enterprise.
Muhammad Ibn Yazid al-Qadhwini (Ibn Majah). t.th. Sunan Ibn Majah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.
Muhammad Idris al-Shafi‘i. 1990. Al-Umm. Jld. 5; Kitab al-Nikah. Al-Qahirah: Dar al-Qad
al-‘Arf.
Mustafa al-Khin, Mustafa al-Bugha & Ali al-Sharbaji. 2011. Al-Fiqh Al-Manhaji Madhhab Al-Shafi‘i. Terj.Zulkifle Mohammad al-Bakri & rakan-rakan.Putrajaya: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia.
Mustafa al-Khin, Mustafa al-Bugha & Ali al-Sharbaji. 2002. Al-Fiqh Al-Manhaji (Kitab Fikah Madhhab Shafi‘i; Menghuraikan Bab Undang-Undang Kekeluargaan). Jil. 4.Terj. Azizi Ismail & Mohd Asri Hashim. Kuala Lumpur: Pustaka Salam Sdn. Bhd.
Mustafa al-Khin, Mustafa al-Bugha & Ali al-Sharbaji. 2005. Al-Fiqh al-Manhaji; Kitab Fikah Madhhab Shafi‘i. Pustaka Salam Sdn. Bhd : Kuala Lumpur.
al-Naisaburi, Abi al-Husain Muslim al-Hajjaj. t.th. al-Jami‘ al-Sahih. Misr: Maktabah wa
Matba‘ah Mustafa al-Babi al-Halabi.
al-Raqib al-Asfahani, Abu Qasim al-Husayn Muhammad. 1961. Al-Mufradat fi Qarib al-Quran. Muhammad Sayyid Kailani (pnty.). Mesir: Syarikah Maktabah wa Matba‘ah Mustafa al-Babi al-Halabi wa Awladuh.
al-Razi, Zayn al-Din Muhammad Abi Bakr ‘Abd Qadir. 1987. Mukhtar al-Sihhah. Madinah:
Maktabah Tayyibah.
Sayyid Qutb. 2010. Tafsir fi Zilal al-Qu’ran. Jil. 2. Terj.Yusoff Zaki Yacob. Kuala Lumpur:
Pustaka Darul Iman Sdn. Bhd.
Sayyid Sabiq. 1995. Fiqh al-Sunnah. Jil. 2. Syarikat Manar al-Dauliyyah: Qahirah.
al-Shan‘ani, Muhammad bin Ismail al-Amir. 2007. Subulus Salam; Syarah Bulughul Maram.
Terj.Muhammad Isnan, Ali Fauzan & Darwis. Jakarta: Darus Sunnah Press.
al-Siba‘i, Mustafa. 1961. Al-Sunnah wa Makanatuha fi Tashri’ al-Islami. Qahirah: Maktabah
Dar al-‘Urubah.
al-Syawkani, Muhammad ‘Ali Muhammad. 1994. Fath al-Qadir. Beirut: Dar al-Kutub al-
‘Ilmiyyah.
al-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad Jarir. 1995. Jami‘al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Quran. Beirut:
Dar al-Fikr.

Tarikudin Hassan. 2008. Sejarah rasul Ulul Azmi Terbesar Nabi Muhammad s.a.w. Johor:
Perniagaan Jahabersa
Yusuf Syukri Farhat. 2005. Mu‘jam al-Tullab. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah.
al-Zawi, al-Tahir Ahmad. t.t. Tartib al-Qamus al-Muhit. Kaherah: ‘Isa al-Babi al-Halabi wa
Syuraka’uh.
Zulkifli Mohd Yusoff. 2009. Kamus al-Quran; Rujukan Lengkap Kosa Kata dalam al-Quran. Selangor: PTS Islamika Sdn. Bhd.
 
Keywords : Marriage in Islam * , Virgin , Widow ,
 
 
Ditulis oleh saudari NUR ZAKIRAH BT MOHD SUTAN